Wednesday, July 13, 2016

Amankah konsumsi kue kering bagi penderita diabetes

Amankah konsumsi kue kering bagi penderita diabetes

Kue kering sudah menjadi sajian umum di tiap rumah untuk disuguhi kepada tamu atau sekadar makanan kecil untuk menemani perbincangan. Kelezatannya pun kerap menambah kenyamanan di kala santai. Meski begitu, kita tetap harus mewaspadai kandungan nutrisi di balik penganan yang menggoda selera ini, terutama bagi anggota keluarga yang kebetulan menderita diabetes.

Keunikan kue kering terdapat pada kandungan lemaknya yang lebih tinggi daripada roti. Makanan yang dikategorikan camilan ini dinilai baik ketika memiliki bobot struktur yang ringan dan berlemak. Meski ringan, kue kering yang ideal memiliki struktur yang cukup kuat untuk menahan berat dari isi kue kering tersebut.  

Pahami Dulu Panduan Makan bagi Penderita Diabetes 

Kue kering sendiri umumnya dibuat dari bahan-bahan dasar, seperti tepung, susu, gula, soda kue, mentega, butter, dan telur. Kata pastry sendiri, yang dalam bahasa Inggris berarti kue, mengacu ke makanan yang diproses dengan cara dipanggang. Karena beberapa bahan penyusunnya sering dianggap berisiko bagi penderita diabetes, maka muncul pertanyaan, “Apakah makanan ini boleh dikonsumsi oleh para penderitanya?” Sebelum menjawab apakah kue kering berbahaya atau tidak bagi penderita diabetes, sebaiknya kita kenali terlebih dahulu bagaimana panduan mengonsumsi makanan yang disarankan bagi mereka. Hal ini penting karena mengelola diabetes bisa dilakukan dengan diet sehat yang dikombinasikan dengan olahraga teratur dan mengelola berat badan dengan baik. Secara sederhana, berikut panduan diet bagi penderita diabetes:
  • Menjadikan sayuran sebagai bagian utama dari makanan yang dikonsumsi.
  • Mengurangi porsi makanan serta mengurangi mengonsumsi makanan ringan.
  • Menyertakan makanan berkarbohidrat dengan kandungan serat yang tinggi.
  • Usahakan mengonsumsi makanan rendah lemak atau produk susu rendah lemak.
  • Konsumsi daging yang rendah lemak atau sumber protein alternatif, seperti ayam tanpa kulit, ikan, telur, kacang-kacangan, dan tahu.
  • Membatasi asupan makanan yang mengandung lemak jenuh.
  • Mengonsumsi lemak tak jenuh alias lemak sehat dalam kadar yang cukup.
  • Mengonsumsi ikan berminyak yang memiliki manfaat baik untuk jantung.
  • Mengurangi konsumsi garam.


Kue Kering Bagi Penderita Diabetes 

Bahan-bahan kue kering, seperti mentega, susu, dan krim, termasuk bahan-bahan makanan yang mengandung lemak jenuh. Oleh karenanya, kue kering digolongkan sebagai makanan dengan kandungan lemak jenuh yang tinggi. Oleh karena itu, disarankan untuk membatasi konsumsi kue-kue kering bagi para penderita diabetes. Bahkan, menyantap kue atau biskuit yang dipanggang disarankan hanya sebagai makanan penutup untuk acara-acara khusus. Memang ada beberapa cara untuk membuat kue kering menjadi lebih bersahabat bagi penderita diabetes. Misalnya saja, bahan tepung terigu dicampur dengan tepung gandum demi menciptakan kue yang lebih sehat. Selain itu, komponen gula diganti dengan pemanis lain dan prioritaskan mentega yang lebih sehat. Tindakan lain yang dilakukan agar kue kering lebih sehat adalah dengan mengganti butter dengan versi yang lebih sehat. Hal ini didapatkan dengan mencampurkan minyak canola ke dalamnya agar kandungan lemak bisa dikurangi. Hanya saja, meski dianggap lebih sehat, mengonsumsi kue kering secara berlebihan dalam satu waktu sebaiknya tidak dilakukan. Jika hal tersebut dilakukan, maka gula darah akan meningkat sehingga bisa menimbulkan risiko lebih buruk para penderita diabetes. Melihat panduan diet bagi pasien diabetes dan bahan-bahan yang lebih sehat untuk digunakan membuat kue kering, maka bukanlah hal yang tidak mungkin jika seorang penderita diabetas diperbolehkan mengonsumsi penganan yang biasa tersedia saat terdapat perayaan ini. Hanya saja, demi menjaga stabilitas kadar gula darah dalam tubuh, jangan pernah kebablasan saat menikmatinya.
Save

Wednesday, June 29, 2016

Tips cara Menghitung Masa Subur dan Merencanakan Kehamilan

Tips cara Menghitung Masa Subur dan Merencanakan Kehamilan

Bagi beberapa pasangan, kehamilan merupakan sesuatu yang mudah. Namun, bagi pasangan lain, hal ini membutuhkan kesabaran dan sedikit keberuntungan. Banyak yang telah mencoba melakukan penghitungan masa subur, tetapi masih gagal untuk hamil. Perlu kita ketahui juga bahwa tidak semua metode menghitung masa subur akan akurat. Hal ini dapat dipengaruhi oleh siklus menstruasi yang tidak teratur, menurunnya tingkat kesuburan, atau terdapat kesalahan pada metode yang Anda pakai.
Bagaimana cara menghitung masa subur yang benar?

Dr. Philip B.Imler & David Wilbanks dalam bukunya yang berjudul The Essential Guide to Getting Pregnant menyarankan untuk menargetkan ovulasi sebagai waktu yang tepat berhubungan seks jika Anda ingin hamil. Untuk mengetahui kapan Anda seorang wanita sedang berada dalam masa subur, pertama-tama kita harus memulai dari saat Anda menstruasi.
 
1. Menstruasi (masa tidak subur) = Hari 1-6
Fase ini adalah fase selama Anda mengalami menstruasi dan segera sesudahnya, yang diasumsikan tidak adanya telur yang hadir untuk pembuahan. Saat menghitung masa subur maupun masa ovulasi, satuan yang digunakan adalah “hari”. Yang penting diketahui adalah, hari 1 (satu) selalu berarti hari pertama Anda menstruasi.
 
2. Masa subur = Hari 7-20
Fase ini adalah fase di mana Anda mungkin mengalami ovulasi. Studi Wilcox menunjukkan bahwa antara hari 6 dan 21, perempuan memiliki kemungkinan lebih dari 10% berada di jendela subur mereka.
 
3. Masa infertil (tidak subur) = Dari hari 21 hingga menstruasi
Fase ini merupakan fase tidak subur. Namun, bagi wanita yang memiliki siklus tak teratur, ada kemungkinan bahwa jendela kesuburan masih terbuka di fase ini.
 
Membuat jadwal masa subur
Lakukan pencatatan untuk membantu Anda mengingat hari yang baik untuk merencanakan kehamilan.
  • Segera tandai kalender pada hari pertama Anda menstruasi, karena itu merupakan hari 1 siklus Anda.
  • Hitung maju 6 hari ke depan. Hari ke-7 adalah hari yang menjadi awal masa subur Anda.
  • Beri tanda pada kalender pada fase subur yang berlangsung selama 14 hari dari hari 7-20.
  • Mulai untuk fokus melakukan hubungan seks setiap hari saat masa subur untuk bertemu dengan masa ovulasi.

Perlu diingat bahwa metode ini hanya dapat diandalkan oleh wanita dengan siklus menstruasi yang lebih pendek dari 31 hari. Artinya, dari hari pertama menstruasi hingga ke menstruasi berikutnya, ada jarak waktu yang tak lebih dari 31 hari. Jika Anda memiliki siklus yang lebih panjang atau tidak teratur, maka Anda harus melacak ovulasi lebih seksama. Namun, untuk sebagian besar, metode ini merupakan metode terbaik dengan cara termudah dalam menargetkan ovulasi dan memaksimalkan usaha Anda untuk hamil.
 
1. Rutin melakukan seks
Jika Anda secara konsisten berhubungan seks dua atau tiga kali dalam seminggu, Anda memiliki kemungkinan besar untuk menyentuh masa subur di beberapa titik. Bagi pasangan sehat yang ingin hamil, tidak ada istilah terlalu banyak seks, karena inilah yang Anda perlukan.
 
2. Melakukan seks sekali sehari berdekatan dengan waktu ovulasi
Inilah fungsi utama menghitung masa subur, yaitu untuk mengetahui kapan Anda berovulasi. Berhubungan seks setiap hari menjelang ovulasi dapat meningkatkan kemungkinan pembuahan. Meskipun konsentrasi sperma pasangan Anda akan sedikit drop setiap kali melakukan seks, namun berkurangnya sperma tidak akan menjadi masalah untuk pria sehat.
 
3. Menjaga gaya hidup sehat
 
Jaga berat badan yang sehat, termasuk melakukan olahraga sederhana dalam rutinitas keseharian Anda, makan makanan yang bergizi, membatasi kafein, dan mengelola stres. Kebiasaan ini juga baik dilakukan sejak sebelum masa kehamilan.
 
4. Mempertimbangkan perencanaan prakonsepsi
Dokter Anda akan dapat menilai kesehatan Anda secara keseluruhan dan dapat membantu Anda mengidentifikasi perubahan gaya hidup yang dapat meningkatkan peluang Anda untuk dapat hamil. Perencanaan prakonsepsi sangat membantu jika Anda dan pasangan Anda memiliki masalah kesehatan.
 
5. Mengonsumsi vitamin
Asam folat memainkan peranan penting dalam perkembangan bayi. Mengonsumsi vitamin prenatal harian atau suplemen asam folat beberapa bulan sebelum konsepsi, secara signifikan dapat mengurangi risiko spina bifida dan cacat pada tabung saraf.
 
6. Berhubungan seks di pagi hari
Setelah tubuh beristirahat dengan baik, terutama setelah Anda tidur di malam hari, maka tubuh Anda akan berada pada kondisi prima. Dokter juga percaya bahwa seks di pagi hari akan memberikan peluang yang lebih tinggi untuk mencapai pembuahan.
 
7. Menghindari pemakaian obat
Hindari mengonsumsi pil tidur, obat penghilang rasa sakit, atau obat penenang ketika Anda mencoba untuk hamil, karena semua ini akan memperlambat proses reproduksi. Setiap bentuk steroid seperti prednisone atau kortison akan menghambat kelenjar pituitari dalam menghasilkan cukup hormon perangsang folikel atau hormon luteinizing untuk proses ovulasi.

10 Fakta Seputar Menstruasi yang perlu kamu Tahu

10 Fakta Seputar Menstruasi yang perlu kamu Tahu

Menstruasi memiliki banyak nama lain, mulai dari haid, “lagi dapet”, “tamu bulanan”, hingga datang bulan, atau sejumlah eufisme aneh lainnya yang hanya berfungsi untuk membingungkan dan menyembunyikan proses alami yang dilalui oleh setiap perempuan setiap bulannya. Memahami menstruasi dan kesehatan perempuan penting untuk kesejahteraan menyeluruh, namun banyak fakta-fakta dasar yang masih belum diketahui. Di bawah ini, kita akan menguak beberapa fakta paling mengejutkan dan menarik seputar menstruasi.

1. Rata-rata darah yang hilang kurang dari satu gelas
Umumnya, perempuan hanya kehilangan antara beberapa sendok makan hingga 1 gelas darah setiap kali siklus — setiap perempuan bisa berbeda.

Jumlah rata-rata darah yang hilang setiap siklus mencapai 30-40 ml, 9 dari 10 perempuan bisa kehilangan kurang dari 80 ml darah setiap kalinya. Menstruasi berat bisa kehilangan 60-80 ml darah atau lebih setiap kali siklusnya.

2. Anda terlahir dengan persediaan sel telur yang cukup untuk seumur hidup
Wanita dilahirkan dengan kurang lebih satu hingga dua juta sel telur yang belum matang (atau folikel) di indung telur mereka. Sebagian besar folikel ini akan mati seiring perempuan bertumbuh, dan hanya sekitar 400 yang akan mencapai tahap matang.

3. Darah menstruasi bukan darah kotor
Darah menstruasi bukanlah darah kotor, seperti yang selama ini banyak dipercaya. Darah haid sebenarnya tidak berbeda dengan dari luka berdarah di lutut atau darah mimisan. Hanya saja, darah haid mengandung sisa jaringan dari dinding rahim yang luruh setelah proses ovulasi.

4. Anda tidak akan diserang hiu jika berenang di laut saat menstruasi
Ini hanyalah mitos belaka. Tidak pernah ada laporan tercatat yang terkait dengan serangan hiu disebabkan oleh wanita menstruasi. Dilansir dari scrollmed.com , jumlah darah yang dihasilkan saat menstruasi sangat kecil (lihat poin 1) dan akan tertutupi oleh ribuan komponen lain di dalam air.

Hiu tertarik dengan asam amino dalam darah Anda. Asam amino, unsur pembangun protein, juga hadir dalam keringat dan urin. Bahkan jika Anda memproduksi tiga kali lipat asam amino dengan berkeringat, buang air kecil, dan dari haid saat berenang di lautan, jumlah asam amino yang Anda lepaskan relatif tidak memiliki pengaruh apapun begitu asam ini larut dalam air, tegas Chris Lowe, kepala California State University, Long Beach’s Shark Lab.

Hiu akan mengandalkan indera lain, termasuk penglihatan, suara, dan electroreception, untuk melacak Anda. Satu lagi yang harus dipahami, peluang hiu menyerang manusia lebih didasari oleh perasaan takut dan terancam, bukan karena mereka mencium bau darah Anda atau menganggap Anda adalah mangsa yang mudah.



5. Gairah seks Anda akan lebih tinggi saat sedang haid
Kadar libido Anda bisa melesat sangat tinggi selama Anda haid akibat hormon estrogen dan progesteron yang menurun. Tertarik berhubungan seks saat menstruasi?
 
6. Anda masih bisa hamil saat menstruasi
Walaupun kemungkinannya sangat kecil, jangan jadikan ini alasan untuk tidak menggunakan perlindungan saat berhubungan seks.
 
7. IUD hormon bisa membuat menstruasi absen selama setahun penuh
Kontrasepsi IUD hormon bisa membuat Anda tidak mengalami haid sama sekali selama setahun pertama pemakaian. Tetapi, siklus menstruasi normal dan kesuburan akan kembali normal di akhir tahun setelah satu tahun melepas IUD.

Kebalikan dari mitos yang beredar, IUD tidak menyebabkan kemandulan. Beberapa merek IUD menyebabkan menstruasi yang lebih ringan (untuk beberapa wanita, bahkan tidak mengalami haid sama sekali) karena hormon dalam perangkat tersebut, dan hormon bisa bertahan hingga 3-10 tahun, tergantung dari perangkat apa yang Anda pilih. Walaupun begitu, setelah IUD dilepas, tubuh anda akan mulai mengatur diri kembali dan kesuburan normal akan kembali dalam tahun pertama.
 
8. Vicarious menstruation, menstruasi dari seluruh lubang di tubuh
Wanita yang mengidap vicarious menstruation mengalami perdarahan bulanan tidak hanya dari rahim, tetapi juga keluar dari bagian tubuh lainnya. Banyak perempuan melaporkan mengeluarkan darah dari hidung, lengan, paru, payudara, saluran pencernaan, mulut, kandung kemih, mata dan mulut setiap bulannya mengikuti siklus haid mereka, dan akan mereda setelah beberapa hari.
 
9. Bangsa yunani kuno memiliki ritual pertumpahan darah terinspirasi oleh menstruasi
Mereka mempercayai haid adalah cara tubuh menghilangkan darah berpenyakit. Ritual pertumpahan darah — proses yang sangat mirip dengan menstruasi pada perempuan — diresepkan oleh para tabib Yunani kuno untuk menyembuhkan segala penyakit, namun menyebabkan kerusakan hebat. George Washington dicurigai meninggal akibat kehilangan banyak darah, setara dengan tujuh kaleng soda, yang dikuras dari tubuhnya dari ritual ini.
 
10. Di abad lalu, anak perempuan dilarang masuk perguruan tinggi karena menstruasi
Orang-orang menganggap darah menstruasi akan mengalir ke otak yang bisa merusak sistem reproduksi perempuan tersebut secara permanen, sehingga pada akhirnya menyebabkan ia untuk mengandung anak cacat dan sakit-sakitan.

yang harus dilakukan Saat Menjemur Bayi yang Baru Lahir

yang harus dilakukan Saat Menjemur Bayi yang Baru Lahir
Ibu biasanya menjemur bayinya yang baru lahir setiap pagi di depan rumah agar terkena sinar matahari langsung. Menjemur bayi baru lahir bertujuan untuk membantu pertumbuhan tulang bayi. Sinar matahari pagi mengandung vitamin D yang baik untuk pembentukan tulang bayi sehingga bayi baru lahir dapat memenuhi kebutuhan vitamin D-nya.

Selain untuk pertumbuhan tulang, ibu yang menjemur bayinya juga bertujuan untuk mengobati penyakit kuning (jaundice) atau ruam pada kulit bayi karena pemakaian popok. Namun, sebenarnya hal ini tidak direkomendasikan. Penyakit kuning sebaiknya ditangani dengan mengikuti anjuran medis. Untuk kulit ruam karena pemakaian popok disarankan untuk lebih sering mengganti popok bayi.

Apakah perlu menjemur bayi baru lahir?
Vitamin D diperlukan tubuh untuk membantu menyerap kalsium dan fosfor dari makanan. Kedua mineral ini penting untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan tulang menjadi lunak dan lemah, serta dapat berujung ke kelainan bentuk tulang (riketsia). Kebutuhan vitamin D yang terpenuhi dapat melindungi bayi dari risiko osteoporosis, tekanan darah tinggi, beberapa penyakit autoimun, dan kanker saat bayi sudah tumbuh dewasa.

Cara terbaik untuk mendapatkan vitamin D adalah dengan terkena sinar matahari langsung. Bayi perlu terpapar radiasi ultraviolet B (UVB) tingkat rendah dari sinar matahari untuk dapat memproduksi vitamin D. Tubuh memproduksi sebagian besar vitamin D dari sinar matahari yang mengenai kulit. Menjemur bayi di sinar matahari langsung penting dilakukan karena tubuh memerlukan vitamin D dari sinar matahari untuk pembentukan tulang.

Namun, terlalu banyak terkena sinar matahari juga dapat menyebabkan kulit bayi terbakar, dan bahkan dapat menyebabkan kanker kulit (seperti melanoma) dan kanker lainnya pada usia lanjut. Oleh karena itu, ibu harus memerhatikan bagaimana cara menjemur bayi yang benar sehingga bayi mendapatkan sinar matahari yang cukup untuk pertumbuhan tulangnya bukan mendapatkan kulit yang terbakar atau penyakit yang lebih serius karena sinar matahari.

Berapa lama sebaiknya menjemur bayi?
Berapa lama kulit bayi menjadi merah dan terbakar karena terkena sinar matahari berbeda-beda antar individu. Waktu singkat di bawah sinar matahari, sekitar 10-15 menit sudah cukup bagi bayi dengan kulit cerah untuk mendapatkan vitamin D, dan bagi bayi berkulit lebih gelap diperlukan waktu lebih banyak di bawah sinar matahari untuk menghasilkan jumlah vitamin D yang sama. Saat menjemur bayi, sebaiknya kulit bayi tidak diberi perlindungan tabir surya karena paparan sinar matahari langsung mengenai kulit bayi sangat diperlukan oleh bayi. Lagipula, kulit bayi usia 0-6 bulan masih terlalu sensitif untuk pemakaian tabir surya. Menjemur bayi setidaknya sepuluh menit setiap hari sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan vitamin D pada bayi.
Apa yang harus diperhatikan saat menjemur bayi?



Paparan sinar matahari dapat memberi manfaat sekaligus juga dapat membahayakan kulit bayi. Terpapar sinar matahari terlalu lama dapat membuat kulit bayi terbakar. Kulit bayi yang terbakar dapat menyebabkan nyeri, demam, dan dehidrasi pada bayi. Selain itu, juga dapat meningkatkan risiko melanoma (jenis yang paling mematikan dari kanker kulit) serta kerutan di kemudian hari.

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika menjemur bayi adalah:
  • Waktu. Waktu menjemur bayi sebaiknya di bawah jam 10 pagi dan di atas jam 4 sore. Sinar matahari paling kuat terjadi antara pukul 10 pagi sampai 4 sore.
  • Durasi. Sebaiknya menjemur bayi tidak terlalu lama, yaitu cukup 10-15 menit per hari. Terlalu lama menjemur bayi di sinar matahari langsung dapat membahayakan bayi.
  • Pakaian. Pakai pakaian yang secukupnya saat menjemur bayi. Sebaiknya tidak melepaskan seluruh pakaian bayi karena bayi baru lahir lebih rentan terhadap penyakit, seperti pilek.
  • Tempat. Sebaiknya menjemur bayi di tempat yang terkena sinar matahari langsung. Menjemur bayi di balik kaca rumah tidak berpengaruh ke kulit bayi karena sinar ultraviolet dari matahari yang diperlukan untuk produksi vitamin D di kulit tidak menembus kaca.
  • Pelindung. Sebaiknya pakai pelindung kepala, seperti topi dan kacamata kecil untuk bayi. Jangan biarkan sinar matahari langsung mengenai kepala, wajah, dan mata bayi. Sinar matahari dapat mempengaruhi retina mata pada bayi.
  • Tabir surya. Bayi usia 0-6 bulan tidak dianjurkan untuk memakai tabir surya karena kulitnya yang masih sensitif. Jika bayi Anda sudah berusia lebih dari 6 bulan dan Anda ingin memakaikan tabir surya ke bayi Anda sebelum bepergian ke luar, sebaiknya pilih tabir surya dengan minimal SPF 15 dan oleskan ke bayi Anda 15-20 menit sebelum ke luar.

Friday, June 24, 2016

rekomendasi berat badan aman saat hamil

rekomendasi berat badan aman saat hamil

Kenaikan berat badan selama hamil berpengaruh pada kesehatan ibu dan bayi saat lahir. Ibu hamil yang mempunyai berat badan berlebih selama hamil meningkatkan risiko mengalami penyakit yang berhubungan dengan kehamilan. Sedangkan ibu hamil yang mempunyai berat badan kurang selama hamil dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah. Kenaikan berat badan selama hamil sangat penting bagi bayi karena berat badan bayi saat lahir dan status kesehatan bayi tergantung pada berat badan ibu saat hamil.
 
Kenaikan berat badan saat hamil bukan hanya karena bayi
Sebanyak 1/3 dari kenaikan berat badan selama kehamilan diperuntukkan bagi janin, plasenta, dan cairan ketuban, sedangkan 2/3 sisanya diperuntukkan bagi otot uterus (rahim) yang terus melakukan pembesaran, jaringan payudara, peningkatan volume darah, cairan ekstraseluler, dan penyimpanan lemak ibu hamil sebagai persiapan untuk menyusui.

Ibu hamil menyimpan sejumlah besar lemak tubuh pada kehamilan normal untuk memenuhi kebutuhan tubuh ibu dan kebutuhan energi janin, dan juga untuk mempersiapkan kebutuhan energi saat menyusui. Tubuh menyimpan lemak paling banyak antara 10 sampai 20 minggu kehamilan atau sebelum kebutuhan energi janin yang tertinggi. Cadangan lemak cenderung menurun sebelum akhir kehamilan. Hanya 0,5 kg dari sekitar 3,5 kg cadangan lemak selama kehamilan disimpan di janin.

Ibu hamil yang memiliki kelebihan berat badan saat kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi selama hamil dan saat persalinan, seperti hipertensi gestasional (tekanan darah tinggi saat hamil), diabetes gestasional, bayi besar (makrosomia), dan kelahiran sesar. Ibu hamil yang memiliki berat badan kurang selama hamil dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur (kelahiran sebelum usia kandungan 37 minggu) dan berat badan lahir rendah (BBLR). Oleh karena itu, usahakan berat badan berada pada kisaran normal selama kehamilan.

Jika ibu mempunyai berat badan berlebih, sebaiknya ibu mengurangi berat badan dengan cara melakukan olahraga serta kurangi makan makanan tidak sehat, seperti makanan manis dan tinggi lemak. Jika ibu mempunyai berat badan kurang sebaiknya ibu lebih banyak makan makanan sehat yang beraneka ragam.
 
Rekomendasi kenaikan berat badan saat hamil
Status berat badan sebelum hamil mempengaruhi hubungan antara kenaikan berat badan ibu selama hamil dan berat badan bayi saat lahir. Karena ibu hamil yang underweight cenderung mempertahankan kenaikan berat badannya selama hamil untuk kebutuhan dirinya sendiri, mereka perlu menaikkan berat badannya lebih dari ibu hamil lainnya selama kehamilan. Sedangkan ibu hamil yang mempunyai berat badan lebih bisa menggunakan sebagian dari cadangan energinya untuk mendukung pertumbuhan janin, sehingga mereka hanya perlu sedikit menaikkan berat badan.



Kenaikan berat badan selama kehamilan tidak menjamin bayi akan mempunyai berat badan normal saat lahir karena banyak faktor lain yang mempengaruhi berat badan bayi lahir. Namun, menaikkan berat badan selama hamil dapat meningkatkan peluang berat badan bayi baru lahir berada di kisaran normal.

Kisaran kenaikan berat badan saat hamil berbeda-beda antar individu tergantung dari berat badan yang ibu punya sebelum kehamilan. Berikut ini kenaikan berat badan yang disarankan selama kehamilan:
  • Bagi ibu yang mempunyai berat badan kurang (underweight) sebelum hamil, yaitu yang mempunyai Indeks Massa Tubuh (IMT) kurang dari 18,5 kg/m2, disarankan untuk menaikkan berat badan sebesar 13-18 kg selama hamil.
  • Bagi ibu yang mempunyai berat badan normal sebelum hamil, yaitu yang mempunyai Indeks Massa Tubuh (IMT) antara 18,5-24,9 kg/m2, disarankan untuk menaikkan berat badan sebesar 11,5-16 kg selama hamil.
  • Bagi ibu yang mempunyai berat badan lebih (overweight) sebelum hamil, yaitu yang mempunyai Indeks Massa Tubuh (IMT) antara 25-29,9 kg/m2, disarankan untuk menaikkan berat badan sebesar 7-11,5 kg selama hamil.
  • Bagi ibu yang mengalami obesitas sebelum hamil, yaitu yang mempunyai Indeks Massa Tubuh (IMT) sebesar 30 kg/m2 atau lebih, disarankan untuk menaikkan berat badan sebesar 5-9 kg selama hamil.
  • Bagi ibu yang hamil anak kembar, disarankan untuk menaikkan berat badan sebesar 11,5-24,5 kg selama hamil.
*Catatan: rumus untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah berat badan (kg)/[tinggi badan (m)]2
Cara mengontrol berat badan selama hamil

Makan makanan sehat dan seimbang selama kehamilan dapat membantu menjaga berat badan ibu hamil. Makanlah makanan sehat yang bervariasi, seperti:
  • Nasi, kentang, roti, dan sereal yang mengandung karbohidrat. Pilih karbohidrat kompleks, seperti nasi merah dan roti gandum, yang lebih kaya zat gizi.
  • Sayuran dan buah-buahan, setidaknya 5 porsi dalam sehari.
  • Daging, ikan, dan telur yang mengandung protein hewani, serta tempe, tahu, dan kacang-kacangan yang mengandung protein nabati
  • Susu dan produk susu, seperti yogurt dan keju. Pilih yang rendah lemak jika ibu hamil mengalami kelebihan berat badan.

Agar lebih sehat, sebaiknya batasi makanan atau minuman manis, batasi pemakaian garam dalam makanan, dan batasi makan makanan yang digoreng. Sebaiknya pilih makanan yang dimasak dengan cara direbus, dipanggang, atau dikukus agar lebih sehat.

Usahakan makan sedikit tetapi sering, sekitar 5-6 kali makan dalam sehari. Selain itu, lakukan olahraga ringan selama hamil, seperti berjalan dan berenang. Selalu aktif bergerak dapat menjaga berat badan dan membantu ibu menjalani persalinan dengan mudah dan lancar.

4 hal yang perlu kamu tahu tentang dampak negatif dari minum susu

dampak negatif dari minum susu

Ketika Anda berpikir tentang kalsium, yang Anda ingat pastinya susu. Susu memang merupakan sumber kalsium yang baik bagi tubuh, meskipun masih banyak sumber kalsium lain selain susu, seperti sayuran berdaun hijau, dan beberapa kacang-kacangan. Namun, sepertinya kita sudah terbiasa dengan susu sebagai sumber kalsium. Mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, sampai orangtua terbiasa mengonsumsi susu sesuai dengan kebutuhannya.

Baik buruknya susu bagi tubuh saat ini menjadi kontroversi. Organisasi kesehatan mendukung konsumsi susu karena baik untuk pertumbuhan dan kesehatan tulang. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa susu memiliki dampak buruk bagi tubuh. Selain itu, juga ada kondisi-kondisi tertentu pada orang yang tidak dapat mengonsumsi susu.
Mengapa susu belum tentu baik bagi tubuh?

Di samping fungsinya yang banyak, kadang susu juga membawa dampak negatif bagi tubuh. Beberapa orang mungkin juga disarankan untuk tidak menjadikan susu sebagai sumber utama kalsium bagi tubuhnya. Ada beberapa alasan mengapa susu mungkin bukan menjadi sumber kalsium terbaik untuk semua orang, yaitu:



1. Intoleransi laktosa (lactose intolerance)

Orang yang mempunyai intoleransi laktosa tidak disarankan untuk menjadikan susu sebagai sumber kalsium bagi tubuhnya. Susu dan produk susu, seperti keju, yogurt, dan produk susu lainnya mengandung laktosa (gula susu) yang akan dicerna tubuh dengan bantuan enzim bernama laktase. Namun, laktase di dalam tubuh seseorang berbeda-beda jumlahnya. Beberapa orang tidak dapat mencerna laktosa dari susu dengan baik karena hanya mempunyai sedikit enzim laktase dalam tubuhnya. Kondisi ini dinamakan sebagai intoleransi laktosa (lactose intolerance).

Bagi orang yang mempunyai intoleransi terhadap laktosa, makan atau minum produk susu dapat menyebabkan masalah kram, kembung, perut bergas, dan diare. Gejala-gejala ini dapat muncul dari tingkat ringan sampai berat.

Lalu bagaimana orang dengan intoleransi laktosa dapat mencukupi kebutuhan kalsiumnya? Salah satu caranya adalah dengan mengonsumsi sumber kalsium lain selain susu, antara lain sayuran berdaun hijau (seperti brokoli, lobak hijau, dan pokcoy), ikan dengan durinya (seperti sarden dan ikan teri), kacang-kacangan (seperti kedelai dan almond).

Jika tetap ingin mengonsumsi susu, carilah susu yang sudah ditambahkan enzim laktase ke dalamnya, susu rendah laktosa, atau susu bebas laktosa. Bagi mereka yang mempunyai intoleransi laktosa, minum susu dengan porsi yang lebih kecil sepertinya masih dapat ditoleransi oleh tubuh. Mereka juga masih dapat mengonsumsi susu yang telah difermentasi, seperti yogurt, atau produk susu tinggi lemak, seperti mentega (de Vrese, et al., 2001).  Namun, kondisi ini berbeda-beda pada setiap orang.

2. Alergi pada susu

Bagi mereka yang memiliki alergi susu, jelas susu membawa dampak negatif. Alergi pada susu sapi sering ditemukan pada bayi dan anak kecil. Alergi ini muncul pada anak yang mempunyai kadar antibodi susu sapi yang tinggi pada darahnya. Sensitivitas pada susu sapi sangat bervariasi antar anak yang memiliki alergi susu. Beberapa anak memiliki reaksi yang parah setelah mencerna sedikit susu. Lainnya mungkin mempunyai reaksi yang lebih ringan setelah mencerna susu dalam jumlah yang lebih banyak.

Untuk menghindari dampaknya, hindari makanan dan minuman yang mengandung susu sapi dan produk susu sapi lainnya. Anda dapat membaca label pada setiap kemasan makanan atau minuman sebelum membelinya.

Apa bedanya alergi susu dengan intoleransi laktosa? Alergi susu merupakan reaksi berlebih dari sistem imun terhadap protein dalam susu. Ketika protein dalam susu dicerna, protein ini dapat merangsang reaksi alergi  mulai dari reaksi ringan (seperti munculnya ruam, gatal-gatal, dan bengkak) sampai reaksi yang berat (seperti sulit bernapas dan kehilangan kesadaran). Berbeda dengan alergi susu, intoleransi laktosa adalah reaksi yang timbul akibat kekurangan enzim laktase untuk mencerna susu, bukan karena sistem imun.

3. Menimbulkan jerawat

Sebagian besar remaja pasti pernah mempunyai jerawat di wajahnya. Salah satu makanan atau minuman yang dapat menyebabkan jerawat adalah susu atau produk yang mengandung protein whey. Di dalam susu terkandung insulin dan hormon pertumbuhan IGF-1. Kedua faktor inilah yang dapat memicu tumbuhnya jerawat. Peningkatan insulin atau IGF-1 dalam tubuh dapat memberi sinyal pada faktor-faktor yang dapat menimbulkan jerawat pada wajah (Melnik, 2011).

4. Kemungkinan peningkatan risiko kanker

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi susu yang tinggi dapat meningkatkan risiko kanker, seperti kanker ovarium dan kanker prostat. Analisis yang dikumpulkan dari 12 penelitian kohort prospektif dan melibatkan lebih dari 500.000 wanita, menemukan bahwa wanita dengan asupan tinggi laktosa, yaitu setara dengan 3 gelas susu per hari, memiliki risiko kanker ovarium sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang memiliki asupan laktosa terendah. Penelitian ini tidak menemukan hubungan antara susu atau produk susu dengan kanker ovarium. Beberapa peneliti memiliki hipotesis bahwa praktek produksi susu di industri modern telah mengubah komposisi hormon susu dalam cara-cara yang dapat meningkatkan risiko kanker yang berhubungan dengan hormon ovarium dan hormon lainnya (Genkinger, et al., 2006). Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kebenarannya.

Penelitian lainnya mengaitkan susu dengan risiko kanker prostat. Sebuah penelitian di Harvard menunjukkan bahwa pria yang minum dua gelas susu atau lebih dalam sehari mempunyai kemungkinan risiko kanker prostat hampir dua kali lipat dibandingkan mereka yang tidak minum susu sama sekali. Hubungan ini sepertinya muncul karena kandungan kalsium dalam susu. Penelitian lebih lanjut menemukan bahwa pria dengan asupan kalsium tinggi, yaitu setidaknya 2000 mg per hari, memiliki hampir dua kali lipat risiko kanker prostat seperti mereka yang memiliki asupan terendah (kurang dari 500 mg per hari) (Giovannucci, et al., 1998; Giovannucci, et al., 2007).

Banyak jenis kanker dan masing-masing jenis kanker mempunyai hubungan yang berbeda dengan konsumsi susu. Beberapa penelitian menunjukkan konsumsi susu meningkatkan risiko kanker. Namun, juga ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa konsumsi susu dapat menurunkan risiko kanker kolorektal (Aune, et al., 2012). Hubungan antara kanker dan konsumsi susu sangat kompleks. Susu mungkin bisa menjadi salah satu penyebab kanker, tetapi hal ini berbeda-beda tergantung individu masing-masing dan susu jenis apa yang diminum. Hubungan antara kanker dan konsumsi susu jelas perlu diteliti lebih lanjut.